20 Januari 2012

Crazy Little Thing Called Love: Cinta Memang Bikin Gila!

Kata orang, cinta itu sesuatu yang ajaib, bisa membuat orang yang merasakannya melakukan apapun demi mewujudkan cintanya. Orang jatuh cinta pasti berusaha tampil lebih baik dan membuang semua hal-hal buruk dari dirinya, demi menggapai orang yang dicintainya. Waaah, masih siang tapi rada-rada ngelantur gak jelas gini :) Tapi, itulah yang digambarkan dalam film Thailand satu ini. Film bergenre drama komedi, bertema cinta ala anak remaja a.k.a. cinta monyet, tapi sama sekali gak ngebosenin buat ditonton. Memang temanya klise, tapi didukung acting para pemain sekelas Mario Maurer dan dibumbui humor-humor centil dan aslinya bikin ngakak yang nonton.

Film ini mungkin terinspirasi dari Beauty and the Beast namun dalam versi sebaliknya. Mungkin Handsome and the Beast hehehe :D Pasti semua ingat, kan, telenovela Betty la Fea? Wah itu telenovela yang hits bener waktu saya SD. Nah, film ini punya cerita yang sama, yaitu tentang cewek jelek (untuk gak bilang "buruk rupa") yang jatuh cinta pada cowok tampan.

Review dan unduhannya pasti udah melimpah di Ustad Google, makanya saya cuma iseng-iseng aja ngomongin film yang udah rilis 2010 silam ini. Namun, satu hal yang paling saya garis bawahi dari film-film cinta Thailand adalah kesan realitis yang digambarkan di dalamnya. Entah kenapa, kalau nonton film Thailand, berasa nonton kehidupan sehari-hari. Beda saat nonton film-film remaja Indonesia. Kebanyakan selalu menonjolkan kehidupan glamor, modern, dan seabreg hal lain yang mungkin berasa 'asing' di mata penonton Indonesia sendiri.

Sinopsis

Crazy Little Thing Called Love berkisah tentang seorang gadis 14 tahun bernama Nam (Pimchanok Luevisetpaibool). Nam gadis cupu, kulitnya hitam, berkacamata jadul, dan memakai behel gigi. Karena kondisinya yang sedemikian "mengenaskan" (wiiih hiperbola banget ya:)), Nam hanya punya tiga orang sahabat setia. Ke mana-mana selalu berempat.

Nam, gadis jelek yang memimpikan Shone.

Nam dan ketiga sahabatnya yang sama-sama kelompok "terpinggirkan" di sekolahnya.
  

Nam jatuh cinta pada kakak kelasnya, Shone (Mario Maurer), yang jadi pujaan cewek-cewek di sekolahnya. Merasa sadar diri, Nam tak hanya bisa berangan-angan bisa mendapatkan Shone. Namun, ketiga sahabatnya membantunya untuk bisa menggapai mimpinya itu. Beragam cara dilakukan Nam dan sahabatnya, seperti memutihkan kulit, melepas kacamata, behel, dan mengikuti ekskul drama. Selain demi Shone, Nam juga berusaha meningkatkan prestasinya di kelas demi mewujudkan mimpinya ke Amerika, menemui ayahnya yang bekerja di sana.

Beragam cara dilakukan sahabat Nam, salah satunya memutihkan kulit.

Shone, pangeran impian Nam.

Alih-alih jadi putih, kulit Nam malah terlihat kuning. Tampak ia shock karena Shone memegangnya.
   

Perlahan-lahan, Nam mulai berubah. Berawal saat ia terpilih memerankan Putri Salju (saking tidak ada lagi pemain yang pas) pada pentas drama. Saat itu, Pin (Kachamat Pormsaka Na-Sakonnakorn), teman sekelas Shone, bertugas mendandani Nam yang kemudian mulai menunjukkan kecantikannya. Nam mulai dikenal dan jadi pusat perhatian di sekolahnya, termasuk Shone dan temannya yang baru saja pindah, Top (Acharanat Ariyaritwikol).

Kehadiran Top membuat Shone berhenti berusaha mendapatkan Nam.

Saat Nam "berhasil" menjadi cantik, namun ternyata kisah cintanya tidak terlalu mulus. Itu karena Top menembak Nam terlebih dahulu. Meski belum memberi jawaban, Nam akhirnya mulai sering bergabung dengan kakak-kakak kelasnya itu: Shone, Top, dan Pin. Ketiga sahabatnya mulai merasa kesal dan sedih karena Nam mengacuhkan mereka.

Ceritanya semakin rumit saat Nam menolak Top karena ia sudah punya pilihan sendiri. Top yang sakit hati meminta Shone sebagai sahabat dekatnya untuk tidak mendekati Nam. Itulah sebabnya selama tiga tahun, Shone tak kunjung menyatakan cinta pada Nam. Hingga di akhir kelas 3 dan Shone hendak lulus, Nam memberanikan diri mengutarakan perasaannya pada Shone. Sayangnya, saat itu ternyata Shone sudah jadian dengan Pin (ribeeet ya :)).

Jreng ... jreng ... jreng. Inilah Nam setelah berubah. Langsung cantik, putih, dan kinclong :)

Nam saat terjatuh. Shone mengalah dan membiarkan Nam digendong Top.
 

Klasik, kan? Tapi, film ini tambah seru dengan kehadiran wali kelas Nam, Ms. Inn (Sudarat Budtporm). Guru centil ini terpikat pada guru olahraga, Mr. Phol (Tangi Namonto), meski harus bersaing dengan Ms. Orn. Berbagai hal konyol dilakukan Ms. Inn, baik pada Mr. Phol maupun pada murid-muridnya. Yang jelas, kehadirannya yang bikin film ini segar dan gak menjebak kita dengan cinta-cintaan Nam dan Shone saja. Jadi, film ini mengisahkan cinta, persahabatan, dan kekonyolan Ms. Inn.

Ms. Inn mendapat hadiah dari Mr. Phol dan memamerkannya pada guru lain. Padahal, guru lain dapat hadiah yang sama bahkan lebih banyak.

Kekonyolan Ms. Inn lainnya :lol:

Meskipun bukan film yang superkeren, tapi film ini asyik buat ditonton di kala senggang atau bisa jadi hiburan di kalau galau mendera hehehe.

Yuk, Selamatkan Anak Indonesia!