Puasa tinggal dua minggu lagi. Tepatnya dua belas hari lagi. Tapi kata Abah, bisa jadi ada yang tinggal sebelas hari lagi. Mereka itu orang-orang yang ingin lebaran lebih cepat, sambungnya. Mereka memang sudah beda akidah, tambahnya di sela-sela bincang-bincang kita di bawah bohlam 10 watt.
“Bukan,” kata A Usep menyanggah. Sewaktu ngaji habis magrib, aku tanyakan kok ada yang beda akidah? “Itu Cuma masalah perbedaan, kata Nabi perbedaan itu rahmat,” lanjutnya.
Aku tak bertanya lebih lanjut, percuma, aku tak kan mengerti.
Masalahnya, dulu waktu Pak Karim baru pindah ke kampungku, lalu salat Subuh berjamaah, ia tidak mengikuti imam mengangkat tangan untuk qunut. Abah berkomentar, ia berbeda akidah dengan kita. Tapi kata A Usep, akidah kita sama, yaitu Islam. Sebetulnya, A Usep bicara panjang lebar, tapi saat itu aku malas mendengarnya dan sekarang sudah lupa.
Sudah, ah. Aku tak tertarik bicara itu. Yang jelas, kalau bulan puasa tiba, orang-orang di kampungku pasti memeprsiapkan diri untuk papajar. Papajar itu jalan-jalan sebelum puasa. Aku biasanya papajar dengan keluargaku juga.
Sore ini, aku dan teman-temanku beristirahat di pinggir wahangan. Tadi kita sudah bermain galah di lapangan. Lalu kita bertukar cerita tentang rencana papajar. Banyak yang akan papajar keluar Cianjur.
Ujang rencananya akan ke Bandung. Uh, sampai umurku empat belas tahun, aku belum pernah ke kota yang namanya Bandung. Padahal A Farid, anaknya Pak Kades, suka bercerita tentang Bandung kalau ia sedang pulang kuliah. Katanya perempuannya gareulis, banyak mal, dan juga hiburan lainnya. Tapi kata A Usep lain lagi ceritanya, bahkan perempuan Cianjur lebih gareulis.
Isah sudah sepakat akan pergi ke Pelabuhan Ratu dengan keluarganya. Bahkan Rama akan pergi ke pantai juga, Pangandaran. Lalu aku berfikir lagi, ingin sekali pergi ke pantai; Pelabuhan Ratu, Pangandaran, Pantai Carita, atau Ancol. Tapi, ke Pantai Jayanti saja –yang masih di Cianjur—aku belum pernah. Apalagi sekarang Emak bilang, “sieun tsunami.” Padahal aku yakin, alasan utamanya karena Abah tak punya uang.
Ketika aku ditanya, aku agak gugup karena bingung. Keluargaku belum punya rencana kemana-mana. Tahun kemarin pun hanya mayor di kebon awi Bi Icih. Di kaki Gunung Mananggel, yang hanya berjarak dua puluh langkah kaki dari rumah bilikku. Lalu aku pamit pulang saja, hendak bertanya pada Abah, tentang papajar tahun ini.
Seingatku, riwayat papajarku hanya sejauh ke Kebun Raya Cibodas. Dengan menempuh tiga kali naik turun angkot, kita dapat papajar dan mayor disana. Seabreg lauk dengan timbel disediakan untuk memuaskan diri sebelum sebulan harus menahan rasa lapar dan haus. Papajar terjauh itu, yaitu ketika aku duduk di kelas tiga SD, lima SD, dan satu SMP.
“Bah, kemana kita akan papajar tahun ini? Tanyaku langsung ketikabegitu saja kubuka pintu rumah yang reot.
Abah diam. Tak bergeming seikit pun. Kepulan asap dan bako yang dihisapnya. Hhh, kesal. Kucari Emak.
“Mak, kemana kita akan papajar tahun ini?” Tanyaku antusias. Ingin sesekali pergi ke tempat yang lebih menawan.
Emak menatapku lama. Ia masih memegang boboko berisi piring-piring bersih yang telah dicuci. Kemudian jongkok di depan tungku.
“Kita mah mayor saja di rumah Uyut.”
“Rumah Uyut?”
Kupasang raut wajah kecewa. Mengapa sekian tahun papajarku selalu dilalui di kampong ini. Aku iri dengan teman-teman yang lainnya. Mereka bisa memilih seenaknya, kemana mereka akan papajar.
Menghitung hari, puasa tinggal tujuh hari lagi. Sebagian teman sudah pergi papajar. Ada juga yang belum, namun pasti mereka akan pergi. Ke tempat yang mereka inginkan, tentunya.
Semua sibuk dengan rencana mereka sendiri. Sedang aku hanya mengurung diri dari keramaian. Tak ingin bermain dengan teman-teman, karena malas menjawab pertanyaan mereka, “Kemana Udin papajar?”
Aku menepi di wahangan. Duduk termenung di atas cadas. Bertanya pada air yang mengalir, mengapa aku jadi anak tak beruntung.
“Udin!” Sebuah suara memanggilku.
A Usep,” sapaku. A Usep menghapiri. Tampaknya ia baru pulang dari ladang.
“Udin kamana wae? Kata Emak, kamu sakit. Sudah lama gak ngaji. Lagi ngapain disini?” Kemudian A Usep duduk di sebelahku.
“Udin gak kemana-mana, A,” jawabku singkat. Kumasih menatap percikan air dengan muka sedih.
“Kenapa, Din, kamu ada masalah?”
Aku menggeleng.
“Ayo, Din, cerita sama A Usep sekarang?”
Aku diam. Pura-pura tak mendengar, kemudian A Usep mengulang pertanyaannya. Aku terpaksa bicara.
“Gini, A. Udin pengen papajar,” ucapku sambil menatap A Usep. Lelaki tinggi berkulit putih itu pun memelukku.
“Tadi, Emak bilang lusa mau mayor di rumah Uyut. Emak ngajak A Usep.”
“Tapi itu bukan papajar.”
“Kata siapa? Itu papajar, Udin. Emang menurut kamu papajar itu kemana?”
“Dari dulu, Udin papajar di kampung terus. Padahal yang lain, selalu jalan-jalan ke tempat wisata, bahkan keluar kota, “ kataku tertunduk.
A Usep menghela nafas. “Oh, itu masalahnya,” katanya sambil mengelus rambutku. Hening sejenak.
“Din,” lanjut A Usep, “Kamu tahu gak papajar itu apa?”
Aku menggeleng.
“Dulu masyarakat kita senang bila menyambut bulan Ramadan. Namun mereka tidak tahu kepastian hari pertama merka harus puasa. Jadi mereka beramai-ramai datang ke mesjid Agung untuk menanyakan kapan puasa dimulai.”
Aku memerhatikan A Usep. Aku belum mengerti apa hubungannya ucapan A Usep dengan papajar.
“Setelah sampai di mesjid Agung, orang-orang berzikir, bersalawat, dan mendengarkan tausiah dari penghulu mesjid. Mereka terus beribadah, sampai penghulu mesjid memberitahukan kapan awal puasa.”
“Terus?” Tanyaku. A Usep melepas pelukannya.
“Setelah tahu kapan puasa dimulai, baru mereka pulang ke kampong masing-masing. Nah, itulah papajar!”
Aku diam tak berkomentar.
“Sekarang, kebiasaannya jadi berbeda. Entah kenapa dan sejak kapan. Orang lebih suka jalan-jalan, bersenang-senang, bahkan menghambur-hamburkan uang. Padahal inti dari papajar adalah ibadah dan berzikir. Semoga Ramadan masih kita temui. Sekarang ini banyak bencana, ke laut tsunami, dekat gunung meletus, tidak di keduanya pun bahkan ada banjir dan gempa. Seharusnya orang banyak ibadah dan lebih dekat kepada Allah. Bukan senang-senang yang dapat melenakan dan melupakn Allah. Jadi, lebih bagus kita hanya menyambut Ramadan dengan mayor di rumah uyut saja. Berbagi kebhagiaan dengan keluarga. Insya Allah terhindar dari maksiat, tak seperti bila kita pergi ke tempat-tempat wisatta, potensi maksiatnya besar.”
Aku diam termenung. Beranjak meninggalkan A Usep sendiri, hendak pulang dan bertanya pada Abah,
“Kemana kita akan papajar tahun ini?”
Catatan:
Papajar: Acara dalam rangka menyambut Bulan Ramadan, biasanya dengan jalan-jalan dan makan; Aa: Sapaan kepada lelaki yang lebih tua; Sieun: Takut Abah: Bapak; Emak: Ibu; Wahangan: Sungai; Gareulis: Cantik-cantik; Mayor: Makan bersama (istilah yang digunakan masyarakat Cianjur); Uyut: Orangtua nenek-kakek; Kamana wae?: Kemana saja?
