Alhamdulillah, sudah sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan sudah terlalui. Semoga saja barakahnya dapat dirasakan oleh semua umat manusia di jagad ini. Barakah bulan yang jelas-jelas di dalamnya terdapat lailatu al-qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan lainnya. Di bulan ini juga terdapat momen mengingat turunnya pedoman hidup manusia, yakni Al-Quran Al-Karim. Siapa yang masih akan menyanggah keagungan bulan Ramadhan ini? Mangga we, asal argumennya kuat dan jelas. Toh, ane hanya meniru perkataan guru-guru ane kok.
Bicara Al-Quran, ane teringat suatu masalah yang diungkapkan oleh salah seorang dosen sastra di kelas ane. Beliau mengungkapkan, bagi anak sastra tak ada salahnya Al-Quran diduduki. Menurutnya, halal dan haram itu bukanlah kajian kita sebagai anak sastra, namun halal dan haram itu merupakan tataran syariat yang lebih cocok dingkap mahasiswa (fakultas) syariah atau hukum Islam. Ane cukup kaget, tercengang juga. Kalau begitu beliau tidak mempermasalahkan Al-Quran itu mau diinjak, dilempar, dan perlakuan kasar lainnya. Masya Allah!
Apa ane termasuk orang awam, sehingga ane harus kaget dengan pernyataan tersebut? Biasanya kan orang awam yang mudah kaget dengan pernyataan-pernyataan filosofis tersebut. Siapapun dapat menyanggah ungkapan tersebut. Toh, itu hanya kalam dosen, bukan kalam Ilahi. Ane pun coba berfikir lebih keras, sebenarnya apa batasan sastra dan agama itu?
Al-Quran itu adalah kitab yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada Rasulullah Saw. Ditulis dalam Bahasa Arab yang memuat jawaban dan pemecahan beragam masalah dari fenomena yang terjadi di dunia ini. Walau diturunkan jauh sebelum Indonesia merdeka, Al-Quran akan selalu relevan dengan kondisi zaman manapun, termasuk zaman modern saat ini.
Al-Quran itu memuat dua dimensi. Pertama, fisik. Kedua, isi. Secara fisik, Al-Quran hanyalah sekumpulan teks berbahasa Arab yang disebut mushaf. Ditulis oleh tangan-tangan manusia, tak ubahnya karya-karya sastra lain, seperti cerpen, novel, dan antologi puisi Arab. Kedua, secara isi, Al-Quran memuat wahyu yang diturunkan Allah swt. kepada Rasulullah Saw. Wahyu tersebut bersifat transendental dan suci. Karena memuat petunjuk atau pedoman hidup umat manusia di dunia ini. Oleh karena itu Al-Quran seolah memiliki ruh yang menjadikannya hidup. Penuh keagungan dan perlu adab tertentu untuk memperlakukannya.
Bagaimana apabila Al-Quran diduduki?
Oke, ane cukup analogikan hal ini dengan orangtua kita (apa bener, ya?).
Orangtua setidaknya menurut ane juga memiliki dua dimensi. Pertama dimensi fisik, kedua dimensi batin (isi). Orangtua kita adalah makhluk ciptaan Allah Swt. Sama seperti kita, hanya manusia. Manusia biasa. Layaknya makhluk lain yang bernama ayam. Jantan dan betina bisa menyatu kapan pun. Setelah telur menetas dan memiliki anak, sang ayah dengan seenaknya boleh mengawini anaknya. Tak masalah. Manusia bernama "orangtua" juga boleh kita perlakukan seperti manusia lain. Kalau kita mengejek teman, apa salahnya mengejek orangtua. Walau kita lahir dari perbuatan manusia yang disebut "orangtua", tapi tetap orangtua adalah manusia. Boleh menikahi manusia lain bernama "orangtua".
Dimensi kedua, yaitu batin (isi). Orangtua punya ruh, hidup. Betapa contoh-contoh diatas tidak dapat kita terapkan dalam kehidupan kita. Mengapa? Karena makhluk bernama "orangtua" itu memiliki nilai tambah dari manusia lainnya. Entah dari mana, kita serasa memiliki ilham untuk lebih beradab memperlakukan orangtua. Ada nilai-nilai batin, seperti menghormati, menyegani, dan kasih sayang, yang kita miliki saat menghadapi orangtua. Terlebih ajaran yang menyebutkan orangtua telah berjuang melahirkan dan mendidik kita. Ya, kita patut untuk berterimakasih atas semua. Secara turun temurun, orangtua begitu memiliki nilai-nilai keagungan tersendiri. Sehingga kita mampu lebih beradab di depannya. Nilai-nilai tersebut lahir dari diri manusia, sangat natural dan naluriah.
Begitu pula dengan Al-Quran. Apalah arti dimensi fisik yang terkadung dalam Al-Quran. Tulisan-tulisan itu hanyalah budaya, hasil cipta karya manusia. Namun kita ingat dimensi batin dari Al-Quran itu. Nilai-nilai wahyu yang sangat kudus semestinya membuat manusia memandangnya sebagai sesuatu yang hidup. Kemahaagungan ruh yang terkandung di dalamnya mampu membuat kita menerapkan sendiri norma-norma pada Al-Quran. Sehingga melahirkan adab memperlakukan Al-Quran. Nilai-nilai manusiawi tersebut tentu dapat lahir tergantung kadar keyakinan seseorang. Bukankah salah satu unsur iman itu, percaya pada kitab-kitab-Nya? Kalau percaya, maka tak terlepas dari adab atau sopan santun yang kita terapkan dalam memperlakukannya sebagai representasi firman Allah Swt.
Bagaimana, apa mahasiswa sastra --yang juga termasuk manusia-- boleh menduduki Al-Quran?