Zia



Kau datang dan pergi oh begitu saja
Semua kuterima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam
Di ruang rindu kita bertemu

***

“Aa, pulang!” Suara mungil tiba-tiba menyambutku. Kubuka pintu pagar. Zia menghampiri, memelukku seketika dengan tawa penuh bahagia. Kucium dahinya. Kuusap kepalanya, tak lupa mencubit gemas pipinya.

Kubiarkan Zia tetap bermain bersama teman seusianya di teras. Kulihat Zia sibuk bermain-main warna dengan crayon yang dituangkannya dalam buku gambar. Gunung, matahari, dan rumah-rumahan. Mengingatkanku pada masa kanak-kanakku. Mama bilang, Zia adalah aku saat kecil.

Sekarang pukul empat sore. Sehabis salat dzuhur di mesjid kampus, aku memutuskan untuk pulang ke rumahku di Cianjur. Besok, hari Sabtu hingga Senin, tak ada kuliah. Tadi pagi, sebelum kuliah aku memaksakan diri beres-beres di kos. Buku-buku linguistik, kamus, hingga buku filsafat berserakan di lantai. Gelas-gelas kotor bekas ngopi semalam dengan beberapa kawanku harus kucuci. Dengan demikian, sepulang kuliah aku tidak harus ke kos terlebih dahulu. Tetapi langsung bergegas “pulang kampung.


***

“A, sekarang Zia udah gak tidur sama mama, loh!” Kata mama saat kita berkumpul malam itu. Mama sedang menyetrika, papa membaca lagi koran yang tadi pagi sambil minum kopi.

“Oh, gitu yah! Pinter dong, ade Aa,” tanggapku. Kuraih adik kesayanganku yang baru lima tahun ini. 

Zia yang mungil dan sangat cantiik dengan kerudungnya duduk di pangkuanku. Ia baru pulang mengaji di madrasah sebelah rumah. Kupeluk erat. Begitu manis senyumnya.

“Ya, sekarang Zia pengennya tidur di kamar Aa. Sendiri lagi,” lanjut mama.

“Iya, dong kan udah gede,” sambung papa tiba-tiba.

“Kan, mau masuk SD, ya?” Tanya ku langsung pada Zia.

“Aa, Zia maunya ke SD Bunda aja,” jawabnya polos menyebut nama SD tempat papa mengajar.
“Jangan,” sahutku seketika. “Ih, SD papa tuh di kampung. Zia mending disini aja, di kota!” kataku meledek SD-nya papa.

“Iya, kita ke sekolahan Tari aja, biar Zia bisa kursus komputer dari kecil,” tambah mama, menyarankan Zia masuk SD tempat saudaranya sekolah.

“Alah, dimana saja sekolahnya. Yang penting pinter,” kata papa ketus setelah SD-nya diledek terus.
Zia melepaskankan pelukanku. “Kalo nggak, Zia mau di SD Harapan aja,” tiba-tiba Zia berpendapat lagi.“Idih, kok malah ke situ. Kampung, nggak. Kota juga bukan,” celotehku.

Aku dan mama hanya menertawakan celotehan Zia. Anak sekecil ini kok ngatur-ngatur, mau sekolah dimana. Memang, Zia ingin sekali masuk SD. Namun umurnya yang masih lima tahun belum diterima di SD manapun. Mereka menerima siswa yang genap enam tahun.

Menurutku, Zia sudah pantas di bangku SD. Bahkan dia sendiri yang menginginkannya. Ia kadang nampak sudah dewasa. Zia bosan dengan pelajaran yang ada di TK. Ya, memang aku yakin Zia sudah pasti menguasai semua materi yang ada. Dalam waktu dua bulan duduk di bangku TK, Zia sudah pandai menulis dan membaca. Lagi-lagi mama bilang, itu seperti aku!

“Di sekolah pun, Zia hanya bermain-main saja. Saya sudah tak perlu memberinya pelajaran. Karena Zia sudah bisa semuanya!” ujar Bu Fatma, guru TK-nya.

Hanya saja mama meminta Bu Fatma agar selalu memberi PR, agar Zia diam di Rumah, gak main-main jauh dari Rumah.

Zia juga jadi “selebritis” di kelasnya. Selain cantik, anak TK sekecil Zia ternyata sangat akrab dengan siapa pun. Pernah aku mengantarnya sekolah, ketika kebetulan aku ada di rumah, aku perhatikan banyak temannya yang berebutan ingin main dengannya. Bahkan lucunya, anak laki-laki kadang mengejarnya dan sesekali jail menciumnya. Untuk hal yang satu itu, Zia suka bersembunyi meminta “perlindungan“ pada gurunya. Aku hanya tersenyum melihat tingkah anak-anak pada masa yang pernah semua manusia alami. Masa-masa penuh tingkah tak berdosa.


***

Malam ini, Zia tidur di sebelahku.

“A, tau gak? Kalo Nabi Adam As tuh dulunya di syurga loh,” kepolosan si kecil membuatku 
gemas ingin mencubit pipinya. Aku menahan tawa mendengar Zia menyebut “As” dengan jelas.

“Iya, Nabi Adam dulu tinggal dalam syurga. Zia tau dari mana?” Aku balik bertanya sambil mengusap dahinya.

“Zia baca di majalah,” tubuh mungilnya bergeser, miring berhadapan denganku.

“Terus kita gak boleh loh, A, deketin pohon,” mukanya berubah menjadi serius.

“Kenapa emang?” aku yang dewasa menjadi penasaran.

“Iya, nanti kaya Nabi Adam, dipindahin dari syurga. Kan pohon ada setannya,” jawabnya. 

Aku sontak menahan tawa. Begitu lucu.

“Bukan begitu, sayang. Di syurga itu ada pohon yang buahnya beracun, jadi gak boleh dimakan. Eh, Nabi Adam malah makan buahnya, jadi Nabi Adam dipindahkan ke dunia,“ begitu penjelasanku. Semoga Zia tidak bertanya dan memperpanjang masalah ini, karena bila itu terjadi aku akhirnya akan menemui jalan buntu dan tidak bisa menjawab. Dan, saat itu Zia bilang, “Ya, Aa payah, gak bisa jawab!”

Untunglah, memang benar Zia tidak bertanya tentang yang aku ucapkan. Ia malah berkata,

“A, Zia pengen masuk syurga.” Ucapan yang cukup membuatku bingung. Ah, tapi itu kan ciri khas anak kecil, batinku.

“Makanya Zia harus nurut sama mama, papa, teteh, sama aa. Terus berdoa dan belajar salat!” kataku sambil mengelus-elus rambutnya agar mata bulatnya segera terpejam.

***
Dua minggu kemudian.

Mama memberitahukan kabar baik. Zia sudah nurut bila disuruh salat sejak dua minggu lalu aku pulang ke rumah.Walau kadang untuk salat Shubuh, Zia masih agak sulit. Maklumlah, jam enam saja ketika bangun, Zia pasti merengek-rengek ngantuk. Kebiasaan lazim anak kecil.

Aku senang dengan kebiasaan adik kecilku yang kusayang ini. Puasa tahun kemarin saja, ketika usianya empat tahun setengah, Zia lengkap melakukannya. Ia memang lain dari anak kecil lainnya. Dan, sekali lagi kukatakan, kadang ia nampak dewasa. Teringat ketika papa iseng bertanya,

“Zia, nanti mau kuliah dimana?”

“Di UIN, kaya Aa,” jawabnya serius. Anak seumuran itu biasanya jarang menanggapi hal seperti itu.

“Kok, di UIN, emang mau jurusan apa?” tiba-tiba tetehku menimpali jawaban innocent Zia.

“Matematika.”

Tawa kita pecah. Mama, papa, teteh, dan aku yang kebetulan Minggu itu berkumpul menanggapi jawaban-jawaban Zia yang sungguh menggelikan, bagi kami.

“Ih, mending di teteh, UPI?” kata teteh tak mau kalah.

“Gak apa-apa di UIN, biar pinter bahasa Arab,” jawabku berkompentisi dengan teteh.

“Emang Zia mau jadi apa?” sambung papa.

“Jadi guru.”

Kembali ceria siang itu. Memang tak habis cerita tentang Zia. Ia begitu menghibur. Walau cukup lama terpaut usia 12 tahun denganku, aku begitu sayang padanya.


“Gimana kalau Zia jadi dokter?” Tiba-tiba mama melanjutkan obrolan penuh keriangan ini.

“Gak mau ah, malu,” tiba-tiba jawabannya serius.

“Kenapa?” tanyaku.

“Gigi Zia kan roheng!” Kembali kepolosannya memaksa tawa kita tumpah.

***

Adzan Magrib berkumandang.

Semua bergegas bersiap-siap menghadap Ilahi dalam ritual lima waktu dalam sehari. TV masih menyala, biasanya dimatikan sejenak. Ketika hendak kumatikan, Zia tiba-tiba mencegahnya.

“Jangan, A. Zia pengen denger nyanyian ini,” katanya yang ingin mendengar lantunan Letto yang ada juga soundtrack sinetron Intan di TV.

“Zia kan mesti ngaji,” jawabku agak sedikit keras.

“Ih, bentar dulu…”

Terpaksa kuturuti. Semua orang di Rumah tahu. Lagu itu sangat disukai Zia. Bila muncul video klipnya, Zia akan menghentikan sejenak segala aktivitasnya untuk sekedar melihatnya dan melantun mengikuti irama dan suara sang vokalis band tersebut.

***

“A, Nabi Muhammad tuh udah mati ya, A,” Zia kembali bercerita di malam itu.

“Meninggal,” koreksiku, “Ya, sekarang nabi Muhammad sudah meninggal.”

“Sekarang ada dimana?”

“Ada di syurga.”

“Kata Bu Guru, nanti kita bisa ketemu Nabi Muhammad.”

“Iya, asal kita jangan lupa salat, ngaji, berdoa, dan nurut sama mama papa terus jangan cengeng”

Zia tampak saksama mendengarkan.

“Dan jangan jajan terus!” Lanjutku.

Suasana hening sejenak. Aku terdiam. Tumben, Zia pun terdiam, tak banyak bertanya lagi. Tak seperti biasanya.

“A, Zia pengen cepet ketemu Nabi Muhammad,” aku tertegun mendengarnya.

“Zia pengen cepet ke syurga,” tambahnya. Lagi-lagi yang dibicarakan syurga. Hal itu memang terkesan biasa, namun aku cukup memikirkannya. Nada bicaranya begitu serius. 

Ah… Aku tak boleh berlebihan. Itu memang wajar dari seorang bocah anak TK.

***

Sekarang aku ada di rumah. Besok aku kembali ke Bandung.

Malam ini Zia sakit. Badannya panas. Aku sedih bila Zia sakit. Badannya yang kecil terlihat lebih mengurus bila sakit.

Papa nampak bingung, apa harus dibawa ke dokter sekarang juga. Mama pun tak kalah panik.

Kutemani Zia di kamar mama. Mukanya pucat, kupegang keningnya begitu panas, bibirnya pecah-pecah.

“Zia, jangan sakit. Besok Aa pulang ke Bandung. Nanti Aa bawa oleh-oleh,” ucapku sambil mengelus-elus kepalnya. Kubenarkan selimutnya. Zia tampak murung, badannya tampak lesu, hawa sakitnya begitu kurasakan.

“A, pijitin kepala Zia,” pintanya. Suara dari mulut kecil ini terdengar begitu lemah.

“Iya, sayang!” Kudekap adikku sayang. Kupijat halus kepalanya. Ia bilang kepalanya sakit.

Mama menyuruhku keluar kamar untuk membeli obat. “Biar mama yang temani Zia,” kata Mama. Namun ketika kuberanjak, tangan mungilnya mencegah.

“Aa, jangan pergi!”

“Bentar sayang, Aa mau beli obat dulu,” kataku seraya mengecup keningnya. Terlihat benar Zia tak mau kutinggalkan. Tapi aku harus menuruti mama…

Pagi hari. Aku harus kembali ke Bandung, besok ada kuliah. Tapi kondisi Zia masih buruk. Hari ini papa akan membawa ke dokter. Mama menyuruhku untuk tenang, karena bagaimanapun aku harus kuliah, apalagi minggu depan ujian semester. Pagi ini kupulang ke Bandung.

“Zia, Aa pulang dulu. Minggu depan Aa gak pulang soalnya Aa ujian. Cepat sembuh, ya, dek! Nanti Aa bawa oleh-oleh.”

Kukecup keningnya. Tersirat penuh doa. Walau berat, aku pun berangkat.

***

Seminggu berlalu. Aku tak pulang dari Bandung. Senin lusa, aku ujian semester. Setiap hari kutanyakan kabar Zia, mama bilang tidak apa-apa. Mama menyuruhku agar tenang.
Entah mengapa, aku tak percaya. Ucapan mama di telepon terdengar begitu tak jujur. Tapi aku harus yakin. Mama juga benar, aku harus tenang mengahadapi ujian dan tak boleh berpikir macam-macam tentang Zia.

Pagi di hari Sabtu. Kuintip, langit cerah. Tetapi aku malas melakukan aktivitas, walau sekedar keluar kamar, stretching, atau menyambut mentari.

Air mata menetes tanpa kubuat. Pipiku basah. Tanganku seketika mengusap. Aku menangis? Kenapa? Auk tak sedang memikirkan hal-hal yang membuatku sedih. Aku tak kenapa-napa. Apa fisikku ada yang terluka? Tidak.

Benak terasa berat. Ruang pikirku terhambat sesuatu yang buatku mengharu-biru. Entah apa? Air mata membanjiri pipi, jatuh bertetes-tetes. Aku sangat sdeih. Tapi entah mengapa? Aku sedih dan ingin menangis tersedu-sedu. Ya, Allah, ada apa ini…

***

Malam ini, aku tanyakan kabar Zia. Kata mama, Zia baik-baik saja. Namun hati tak tenang. Lagi-lagi kumenangis. Menangis tanpa sebab!

Minggu pagi yang pas untuk bermalas-malasan. Kumengurung diri di kamar hingga sore, dan tak terasa malam menjelang… Aku tertidur, padahal belum begitu malam, pukul setengah delapan.

Drrrt… Getar Handphone mengusik tidur karena kuletakkan dekat telinga. Tetehku menelepon.

“A, Zia ada di ICU RS Hasan Sadikin.” 

Kuterperanjat. Mulutku seperti disumpal, tak dapat berkata-kata. Air mata mendahului keluar,.

“Jadi, Zia dibawa ke Bandung?”

“Ya, adek koma sejak dibawa dari Cianjur. Adek belum juga sadar.”

Begitu HP diputus, tanpa berfikir panjang, kubergegas memakai jaket dan berangkat menuju rumah sakit. Jam menunjukkan pukul setengah sebelas. Mudah-mudahan masih ada angkutan umum.

Angkutan Kota melaju cepat di jalan A.H. Nasution. Tiba-tiba sebuah SMS masuk. Dari tetehku.

Za, kata papa gak usah kesini. Zia mungkin akan pulang. Besok Aa ujian aja yang tenang.
Kuperkirakan ini baru seperdelapan perjalanan. Aku turuti apa kata teteh yang juga perintah papa. Kuturun dari angkot, dan kembali pulang ke kosku di Cibiru. Kududuk sejenak di bundaran Cibiru setelah turun dari angkot. Lalu lalang mobil dan motor mengusik pandangan.

Aku tak dapat memberi rasa tenang pada jiwa. Apalagi setelah kubaca SMS tadi. Tersurat kata “mungkin.” Itu berarti bukan hal yang pasti. Aku beranjak. Kuputuskan kembali menaiki Angkot untuk pergi ke rumah sakit. Walau papa melarangnya!

Sepanjang perjalanan, jantung berdegup kencang. Hati gelisah. Peluh dingin membasahi di malam berangin Kota Bandung. Jari-jari begitu gugup mengetik keypad HP. Kukirim SMS, sekedar menanyakan,

Zia sudah sadar?

Akan tetapi jawabannya,

Belum

Angkot melaju begitu kencang. Malam hari memang tanpa hambatan. Namun sungguh terasa lama. Kepalaku terus menengok kanan-kiri, tak urung juga kusampai di rumah sakit.

Kukirim kembali SMS yang sama. Namun jawabannya pun sama.

Kukirim lagi. Jawabannya tetap sama, belum.

Kukirim lagi.

Kukirim lagi. Jawabannya sama.

Kusampai di Rumah sakit.

Bismillahirahmanirrahim…

Kulangkahkan kaki dengan cepat. Kulari secepat mungkin menghampiri ICU. Kehadiran teteh langsung menghentikan langkahku tiba-tiba. Teteh memelukku erat. Dadanya bergetar, ada sesuatu yang terisak-isak.

Kupegang dua bahunya. Kudiam.

“Zia, sudah pulang…”

“Innali…”

Bibir kelu. Dunia seperti runtuh, dan kuterhimpit reruntuhannya. Kata-kata terhenti. Langkah juntai. Kudipapah menghampiri sesosok jasad berbalut selimut. Aku tak mau tahu itu siapa.

Kulari sekencang mungkin.

Berharap temukan kembali sentuhan hangat. Memandangi kerlingan mata yang indah. Senyum bibir yang tipis manis. 

Tulisan Populer