28 Januari 2012

A Moment to Remember: Belajar Memaafkan dan Setia

"Memaafkan adalah memberi sedikit ruang pada kebencian" 

(Kim Su-Jin, A Moment to Remember)

Bagaimana caramu menghadapi masa lalu kelam? Bagaimana caramu menghadapi orang yang sangat kamu benci? Dan, bagaimana dapat kamu bayangkan jika kelak hidup bersama seorang istri atau suami yang berpenyakit? Tentu, setiap orang akan punya cara tersendiri menghadapi semua itu. Namun, yang saya bayangkan, akan sulit rasanya bangkit dari keterpurukan akibat masa lalu kelam, tidak mudah rasanya memberi maaf pada seseorang yang amat kita benci karena perlakuan di masa lalu, apalagi bersabar hidup bersama orang yang kita cintai, namun ternyata memberi kita "beban" lebih, dengan merawatnya dalam keadaan sakit. Semua pertanyaan besar ini, akan terjawab dalam film Korea berjudul A Moment to Remember.

Sinopsis

Drama yang dirilis pada 2004 silam ini berkisah tentang Kim Su-Jin (Son Ye-Jin), seorang wanita yang memiliki masa lalu kelam dan "reputasi" buruk, yaitu selingkuhan rekan kantornya sendiri, Young-Min. Ia sangat khawatir jika ayahnya membencinya karena ia telah merusak nama baik keluarga. Namun, tanpa disangka, ayahnya malah mendukungnya untuk melupakan masa lalu dan memulai hari-hari biru. Hingga akhirnya, ia bertemu Choi Ceol-Su (Jung Woo-Sung), pegawai kontruksi di tempat ayahnya bekerja.

Ceol-Su adalah pria dingin dan misterius. Pertemuannya dengan Su-Jin diawali hal konyol, saat Su-Jin merebut minumannya di sebuah toko. Kontan, pada pertemuan berikutnya hal konyol itu kembali terulang, Ceoul-Su nampak ingin "balas dendam" pada Su-Jin. Hal tersebut membuat Su-Jin jatuh hati pada pria bertubuh kekar dan berwajah garang ini. Sampai suatu saat, mereka menjadi dekat. Su-jin akhirnya berani mengutarakan keinginannya menjadi istri Ceol-Su. ceol-Su lantas menolak karena "sadar" akan posisinya yang hanya pekerja kontruksi biasa.

Meski sulit ditaklukan, Ceol-Su akhirnya menikah dengan Su-Jin. Awalnya, ayah Su-Jin tak menerima Ceol-Su, karena pekerjaannya dan juga asal-usul keluarga yang tak jelas. Setelah mencari tahu, Su-Jin akhirnya dapat mengetahui keberadaan keluarga Ceol-Su. Kakeknya, tukang kayu dan penunggu kuil tua dan ibunya seorang narapidana kasus penipuan. Itulah yang membuat Ceol-Su merahasiakan identitas keluarganya, terlebih tentang ibunya yang sangat dibencinya. Namun, lagi-lagi, karena kebesaran hati sang ayah, akhirnya Su-Jin dibiarkan menikah dengan Ceol-Su.

Dokter memvonis, Kim Su-Jin mengidap Alzheimer.
 

Setelah menikah, bukanlah kebahagian yang diterima pasangan ini. Su-Jin divonis mengidap penyakit Alzheimer, suatu penyakit yang mengakibatkan otak tak dapat mengingat kembali masa lalu alias kepikunan. Perlahan-lahan, Su-Jin mulai melupakan segalanya. Keluarga mulai merasa resah dan kasihan pada Ceol-Su. Namun, Ceol-Su tetap bersikukuh ingin merawat sang istri, tak peduli seperti apapun kondisi istrinya tersebut. Dengan kesabaran dan kekuatan cinta yang dimilikinya, Ceol-Su tetap merawat Su-Jin tanpa lelah.

Belajar Memaafkan dan Setia

Dua hal itulah kiranya pesan yang ingin disampaikan dalam film ini. Di awal, film ini mengisahkan pertemuan dan kedekatan Su-Jin dan Ceol-Su. Memang terasa agak longgar dan membosankan, tapi cukup memberikan gambaran kedua tokoh ini dengan kuat. Su-Jin adalah wanita polos, innocent, namun mudah rapuh. Sejak awal, ia memang terlihat sering lupa pada hal-hal kecil, seperti lupa membawa pensil dan lupa jalan pulang. Sementara Ceol-Su, adalah pekerja konstruksi yang dingin dan keras. Meskipun, tak disangka-sangka, akhirnya ia pun bisa menangis saat melihat Su-Jin yang mulai tak mengenalnya.

Sang ayah punya peranan penting dalam menyampaikan pesan bahwa memaafkan tidaklah sesulit yang dibayangkan.

Lalu di mana letak pesan memaafkan itu? Itulah yang digambarkan dalam sosok ayah Su-Jin. Pertama, ia harus bisa memaafkan anaknya sendiri yang sudah "merusak" nama baik keluarga. "Melupakan sesuatu dengan mudah adalah berkah. Tinggalkan semua kesalahanmu dan mulailah sesuatu yang baru," ujar sang ayah dengan bijaknya. Setelah itu, ia harus rela "memaafkan" anaknya yang terlanjur cinta pada Ceol-Su. Padahal, sebelumnya sang ayah tidak menyukainya karena Ceol-Su dianggap pekerja keras kepala.

Gak nyangka, pria berhati keras dan dingin ini juga bisa nangis kalau lihat istrinya sakit :)
 
Choi Ceol-Su setia merawat Su-Jin, meski harus mengelap sang istri yang mulai buang air sembarangan.
 

Hal itu pulalah yang mendorong Su-Jin untuk terus membesarkan hati Ceol-Su saat ia membenci ibunya. Ibunya yang telah membuangnya, kini sedang mendekam penjara. Ia hanya bisa bebas jika ada uang tebusan. Su-Jin berharap Ceol-Su membatalkan membangun rumah dari tabungannya dan lebih baik membebaskan ibunya. "Memaafkan tidaklah sesulit itu. Memaafkan adalah memberi sedikit tempat di hatimu. Memaafkan adalah memberi sedikit ruang pada kebencian," ungkap Su-Jin.

Selepas pernikahan Ceol-Su dan Su-Jin, sebenarnya konflik film ini mulai kentara dan mulai memancing emosi. Bagaimana tidak, penonton dibuat galau karena vonis penyakit Su-Jin yang sangat menohok, namun tetap realistis itu. Secara tidak langsung, kita akan diajak untuk belajar kesabaran dan kesetiaan dari seorang Ceol-Su, pekerja kasar yang ternyata memiliki keteguhan hati, kelembutan, dan terutama kesetiaan. Bisa dibayangkan, saat keluarganya hendak merawat Su-Jin dan menyilakan Ceol-Su untuk hidup bebas, ia masih bersikukuh untuk merawat sang istri yang bahkan sudah melupakan dirinya.

Jadi, kalau mata kamu sudah lama gak diperas, silakan tonton this awesome movie! Jangan lupa tissue, hehehe :)

P.S. Special Feature (Saat kata-kata saktinya muncul :) )

Yuk, Selamatkan Anak Indonesia!