Aku tinggal di sebuah kamar kos seperti mahasiswa lain. Walau banyak aktivitas ku lakukan bersama orang banyak, namun pasti ada waktuku untuk sendiri di dalam kamar kosku. Itu yang aku tak mau!
Teringat bapak dan ibu di kampung. Dulu aku sering jengkel bila adzan magrib sudah bekumandang. Itu tandanya, aku segera bergegas dengan kain sarung, baju koko plus sebuah peci bertengger di kepala. Lalu pergi ke Mushala. Setelah itu, ibu bagaikan fitur reminder dalam HP, yang setiap hari tak bosan-bosan mengingatkan, “Davi, ayo ngaji! Walau hanya satu ayat.” Sebagai komentator, bapak pasti memperpanjang khutbahnya, sampai akhirnya beliau terpaksa mengeluarkan fatwanya sebagai penutup. Pelan dan pendek ucapannya, namun terasa dalam hingga ulu hati. Tetapi itulah sekarang yang ku inginkan!
Aku senang akan aktivitasku selain kuliah, yaitu menjadi seorang reporter majalah kampus. Aku bersemangat mengejar para narasumber untuk kuwawancarai dan kutulis menjadi sebuah berita. Dan kutak keberatan dengan deadline yang ditentukan Pemred, sehingga aku benar-benar belajar keras mendapatkan berita sesuai target. Mencari kejadian-kejadian khas bernilai sebuah news setiap hari untuk media online sangat kugemari. Sehinga hari-hariku benar-benar sibuk. Pulang ke kosan, kesibukan yang mengorbankan tenagaku, kubayar dengan istirahat tidur pulas. Namun kuusahakan tidak terlambat shalat dan sekedar melihat apa yang telah kutulis dalam binder tentang apa yang telah dijelaskan dosen. Tak kubiarkan diriku untuk berdiam diri di kos. Ya, ku usahakan semaksimal mungkin, meski terkadang sendiri memang menghampiri.
***
Hari minggu ini kumulai dengan lari pagi bersama Rivan dan Indra, ya, sekedar menghirup hawa pagi di sekitar gunung Manglayang. Olah raga yang paling digemari karena termasuk the ceapeast sport ini adalah tuntutanku. Dalam seminggu aku harus meluangkan waktu untuk semua anggota badanku ini agar mereka mendapatkan haknya untuk refresh. Dan, juga aku sadar akan kewajibanku untu menjaganya sebagai titipan yang Maha Pencipta agar senantiasa kudapat manfaatkan sebaik mungkin.
Setelah ku biarkan tubuh ini segar diguyur siraman air, tercium wangi sehabis aku usap busa-busa halus dari sabun yang kugosokkan. Aku telah siap dengan t-shirt berkerah dan jeans yang kemarin aku setrika. Kulirik jamku. Pukul setengah sembilan. Sambil menunggu Rivan dan Indra datang, aku duduk di teras sambil membiarkan hangatnya mentari dengan vitamin D-nya mengusap lembut kulitku. Terdengar lantunan Once dari kamar Rian yang berada di sebelah kamarku. “Dav, mau kemana nih? Dah keren gitu, makan dulu gak?” tiba-tiba Adri menepuk bahu dan menawariku makanan. “Mo ke Jatos, liat pameran buku!” jawabku. ”Wisy-wisy hebat neh mainannya buku,” celotehnya sambil menepuk bahuku seraya tertawa kecil. “Ngeledek lo...,” ku coba menepis tangannya sambil membalas senyumnya. ”Ayo makan,” ajaknya sembari berjalan ke kamarnya. “Ya thanks.”
***
Pukul dua siang. Aku kembali ke kosan. Rivan dan Indra juga pulang ke kamarnya masing-masing. Rumah dengan kamar-kamar yang berjajar ini terlihat sepi. Ya, maklum hari minggu, sebagian besar anak-anak pergi jalan-jalan, bahkan ada yang mencurahkan waktu khusus untuk orang tercintanya. Tapi memang ini sungguh sepi.
Aku masuk kamar. Merebahkan badan dengan menanggalkan t-shirt-ku di kastop. Tak lupa kuputar kaset lagu-lagu Indie. Dari pada suasana kamar sepi, seperti kuburan saja!
Tak sekedar mulutku ikut melantun seakan aku berada bersama dengan sang vokalis. Memang aku hobi nyanyi. Walau suaraku sama sekali gak ada bagusnya. Buktinya ikut Indonesial Idol terus-terusan saja gagal, tapi gini-gini pernah menjadi vokalis band di SMA. Narcis!
Tak ada mata kuliah yang harus ku kaji ulang. Tugas makalah untuk minggu depan selesai, hasil liputan tentang isu KKN akan dihapus tahun depan sudah kutulis, mencuci baju bukan hal yang tepat untuk siang seperti ini, sms-an dengan siapa saja malas, akhirnya kudiam dan membiarkan alam fikirku bebas liar berimajinasi.
Hingga yang selama ini, tak mau kufikirkan tiba-tiba masuk dalam otakku. Ku pejamkan mata, berharap tertidur pulas seketika dan terlupa. Namun tetap tak bisa! Ku angkat tubuhku, mengubah posisi tidurku. Kupikirkan apa yang belum kupirkan, tapi tak ada. Inilah yang kubenci diriku sendiri. Waktu yang selalu kuusahkan selalu terisi dengan sesuatu yang bisa membuatku sibuk dan terlupa, kini kosong dan hampa akan hal-hal yang positif.
Bapak guru yang kusegani dulu, tergambar jelas dalam benakku. Senyuman manis namun ternyata penuh ketidakikhlasan dan kepamrihan itu tiba-tiba tersirat dalam angan-angan. Sosok yang aku benci datang dan menghampiri dalam ruang imajinasi.
Sementara itu, ia hancurkan cita-citaku. Kesegananku akan keteladannya telah ia manfaatkan. Aku menuruti apa yang ia katakan dan ia perintahkan sebagai rasa hormatku dan kekagumanku pada kepiawaiannya. Hingga akhirnya aku dipaksa melakukan apa yang selalu terngiang kini dalam imajinasiku. Bapak guru yang terhormat berubah menjadi bapak guru yang terhina dina.
Ya Allah! Aku tertegun. Mencoba melepas bayang-bayang kelam itu. Pergi! Pergi! Pergi! Batinku. Namun tak urung nafsu setan mengizinkan hal itu pergi. Aku terlena dengan fantasi yang terlalu mengangan-angan. Aku menjadi lelaki plin-plan. Apa aku benci pada sang guru? Atau sebaliknya.
Pintu di ketuk. Kuterhentak. Segera ku buka pintu. Raka di depanku. Aku mengenalnya, namun entah apakah ia mengenalku. “Raka,” sambutku. “Kamu tau aku?” ia malah bertanya. Lalu untuk apa ia datang ke kamarku? “Ya, kita pernah kenalan waktu ta’aruf dulu.” Aku mengingatnya. Kita pernah bertemu saat kita masih ospek alias masa ta’aruf--istilah disini.
Ia terdiam sejenak. ”Oh, Daviana Firmansyah, kan?” Aku tersenyum. “Yap, tepat sekali! Ada perlu apa?” tanyaku. ”Oh, ini. Aku mo ngembaliin buku ke Adri. Tapi di sini kayaknya gak ada siapa-siapa. Aku cuma liat hanya kamar kamu yang lampunya nyala, jadi...,” ia terdiam sejenak. “Kamu mau nitip buku itu ke aku!“ aku sambung kalimatnya sambil mengira-ngira. “Oh, jadi keberatan nih! “ ia sok cemberut. “Ya, boleh dong! “ Aku tertawa. Entah mengapa dari obrolan singat ini kita serasa sudah akrab. Aku mempersilahkan dia duduk.
“Kos disini sendiri, Dav?” tanyanya sembari menyerahkan tiga buku pendidikan karena dia kuliah di fakultas pendidikan. Sedangkan aku kuliah di fakultas sains, jurusan matematika. “Sendiri, kenapa emang? Mau nemenin?” aku terus bercanda. “Maunya sih gitu,” jawabnya sambil tertawa. Kita sama-sama bercanda. “Tapi takut,” sambungnya. “Takut apa?” tanyaku heran. “Takut menimbulkan fitnah!” sahutnya sambil tertawa lebih keras. “Loh kok? Emang bisa?” tanyaku pura-pura bego. “Di Prancis, justru yang berduaan di kamar kaya kita yang dicurigai!” Kita kembali tertawa. “Aku juga takut,” aku pun tak mau kalah. “Takut kenapa?” tanyanya. “Takut terjadi hal-hal yang ‘diinginkan’.” Tawa kita kembali pecah.
Kita terlalu asyik ngobrol bahkan bercanda-canda. Parahnya, candaan kita selalu mengarah ke hal-hal yang memerlukan tanda kutip. Ia pun pergi dan berjanji akan main lagi.
***
Dua hari telah berlalu. Ba’da Ashar, aku kedatangan tamu yang sama dengan hari minggu, Raka. Hari ini memang aku gak kemana-mana. Sehabis kuliah, aku setor muka ke sekre, dan langsung pulang ke kos.
Aku dan Raka berbincang-bincang, ngobrol, sekaligus menanyakan aktivitas masing masing di luar kuliah. Ia aktif di teater. Namun tanpa bertanya, ia tahu kalau aku kini menjadi reporter kampus. Namaku kerap muncul dalam buletin garapan anak magang sepertiku. Duh, jadi reporter kecil-kecilan saja sudah terkenal, apalagi sudah jadi reporter handal di TV! Narcisku memang akut.
Aku sempat berfikir, kenapa cowok seperti Raka gak punya pasangan seperti halnya cowok gaul lainnya, ditambah modal yang cukup darinya! Ah, kutepis pikiran macam-macam ini. “Dav, suka jalan kemana kalau malam minggu?” tanyanya. “Jalan kaki ke Manglayang!” aku kembali membuang keseriusan. “Ah... bisa aja! Serius, kamu sama cewek kamu suka kemana?” tanyanya semakin penasaran. “Raka, aku gak mikirin cewek sekarang,” kataku singkat. “Berarti dingin, syerem dong!” Ia bergidik sambil senyum. “Ah, biar serem tapi senang kan!” Nah, aku mulai bercanda yang harus diapit tanda kutip. Kita tertawa. “Kamu sendiri?” aku balik bertanya. “Aku punya lah! Kita long distance gitu,” jawaban yang asal-asalan. Kuyakin itu hanyalah dalih atas ke-tengsiannya dalam menjawab kalau dia tidak punya cewek alias jomblo.
Tapi aku gak tertarik membahasnya atau sekedar bertanya lebih tentang ceweknya. Kita lanjutkan obrolan. Aku senang bisa ngobrol seperti ini, mungkin dia juga! Buktinya, dia masih betah sampai waktu hampir maghrib. Namun, aku merasakan hal yang berbeda dari keakraban ini. Candaan yang dibumbui sesuatu yang biasa dilakukan pria yang berusaha mendekati gebetannya.
Masyaallah! Waktu hampir magrib. Ashar yang terlupakan. Namun Raka masih terlihat asyik ngobrol denganku. Aku tak mau memecahkan keasyikan ini dengan menghentikan obrolan karena waktu ashar yang terlupakan.
Aku terbuai dalam kesenangan hati. Raka, sosok yang pernah kukenal dan kini menjadi dekat dan akrab. Bahkan aku rasa kedekatan ini lama-lama tidak lazim terjadi antara dua teman yang kedua-duanya adalah cowok.
Aku bersandar di bahuya, ia merebahkan badan di kakiku, ia memegang tanganku. Sampai pada malam hari, terlontar kata yang sama sekali tidak pantas terucap antara dua pria. Lebih pantas dikeluarkan diantara dua insan yang berkeluh kasih. Aku diluar batas kewajaran. Pikiranku sama sekali tak jernih.
Ini adalah minggu ketiga aku menjalani hubungan terlarang. Di sela-sela hariku selalu terbesit rasa penyesalan akan hal ini. Namun kepuasan batin selalu mengalahkan. Dalam kewarasan otak ini, aku ingin segera keluar dari ikatan haram ini, tapi bagaimana? Sulit sekali...
Aku sering sekali mendapat teguran dari pemred, karena tak menghiraukan deadline. Aku jarang berdiskusi dengan teman-teman sekelasku. Hari minggu malas sekali berolahraga. Bahkan sekedar coret-coret menggores pena diatas kertas, aku enggan. Yang ada dalam benak hanyalah Raka! Parahnya, aku semakin jauh dari Allah. Astagfirullah!
Sebuah sms tiba-tiba masuk. Kebetulan aku sedang bermalas-malasan di atas kasur. Malam ini dingin. Di luar, hujan dan angin kencang. Aku memilih membalut sekujur tubuhku dengan selimut tebalku. Kubuka sms, dari Raka. Senyumku melebar. “Dav, sory aku gak bisa terus kaya gini.”
Senyum tiba-tiba memudar. Aku terhentak, bagai petir di siang hari. Pesan ini, mengapa harus datang? Ada apa ini? Aku bingung, apa aku harus senang atau sedih dengan hal ini? Senang karena aku bisa lepas dari jerat-jerat setan, atau sedih karena rasa cinta ini tiba-tiba remuk, seperti orang yang merasakan broken heart. Aku balas sms-nya. “Kenapa, Ka?” Lalu ia membalas. “Aku bingung, apa ini baik dijalani atau tidak?”
Teramat berat bagiku. Pertanyaannya patut kupikirkan juga. Namun kutak bisa. Aku tak mau kehilangan Raka. Aku begitu sayang. Aku senang bersamanya, tapi apa mau dikata, aku mahasiswa dan harus dewasa. “Ya, kamu benar. Jangan dipaksakan. Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Lupakan aku!”
Keputusan berat saat kukatakan ia harus melupakanku. Namun itu cara terbaik. Biarlah tali silaturahim putus, daripada aku harus terbayang hal-hal yang tidak-tidak bila kumasih menjalankan hubungan dengannya, meski hanya pertemanan.
Rivan dan Indra sungguh terkejut dengan ceritaku. “Kenapa lo baru kasih tau sekarang?” tanya Indra serius. “Kita akan berusaha bantu dari dulu, sebelum ini terjadi!” tambah Rivan
Inilah cara terbaik terakhir. Mengungkapkan bebanku pada teman-teman baikku agar mereka bisa ikut men-support aku selalu. Agar aku selalu dibimbing atau hanya sekedar diingatkan.
Aku harus jalani hidup seperti biasa. Rasa sakit itu adalah hikmah. Itu harus terjadi, aku harus sakit hati karena Raka. Aku harus kembali dekat dengan Allah. Aku yakin Allah Maha Pengampun, walau hambanya berlumur cacat dan noda sepertiku.
Aku rindu tinggal bersama bapak dan ibu. Agar selalu diingatkan Shalat dan mengaji. Dan aku selalu benci sendiri! Walau sendiri akan selalu menghampiri.
15 Maret 2006
